MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF MENINGKATKAN KARAKTER SISWA
MODEL PEMBELAJARAN COORPERATIF LEARNING
Menjadikan lulusan yang berkualitas dan berkarakter merupakan dambaan
seorang pendidik mulai dari Kepala Sekolah Guru dan Orang tua termasuk
pemerintah sebagai tujuan akhir dari proses pembelajaran. Untuk itu berbagai
cara dilakukan oleh guru, sekolah dan pemerintahan melakukan perubahan-perubahan
dalam memaksimalkan pembelajaran mulai dari mempersiapkan pembelajaran dengan
maksimal, pelaksanaan KBM menggunakan model yang sesuai dengan materi
pembelajaran. Dan evaluasi pembelajaran sebagai bentuk keberhasilan dalam
proses pembelajaran.
Salah satu penyebab hasil belajar yang kurang optimal adalah pemilihan
model pembelajarna yang tidak sesuai dengan materi yang disampaikan. Oleh karena
itu guru dituntut harus tepat dalam mencari model pembelajaran yang sesuai
dengan materi.
Model pembelajaran yang bias menjadi pilihan dalam menunjang kegiatan
pembelajaran yaitu model pembelajaran coorperatif learning. Merupakan salah
satu model dengan memberikan tugas kepada siswa untuk lebih terbiasa bekerja
dalam sebuah kelompok yang hasilnya bias dijadikan persentasi atau laporan
kepada kelompok lainnya dalam kelas. Hasil ini dapat dijadikan sebagai
pendalaman dan ditanggapi oleh kelompok lain sehingga terjadi proses
pembelajaran yang aktif dan dinamis di dalam kelas antara siswa dengan siswa
lainnya.
Kata Kooperatif berasal dari cooperative yang artinya melakukan sesuatu secara
bersama-sama atau berkelompok dengan saling membantu dalam satu tim. Pembelajaran
Kooperatif atau Cooperative
Learning merupakan
suatu metode pembelajaran yang menekanpada sikap dan prilaku bersama dalam melakukan
tugas yang diberikan guru dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain sebuah
pembelajaran yang berkelompok dengan jumlah peserta 2-5 siswa untuk saling
memberikan motivasi antara anggotanya untuk saling membantu sehingga proses
pembelajaran.
Pembelajaran koorperatif merupakan model pembelajaran yang baik
digunakan dalam proses pembelajaran dikarenakan dapat memberikan dampak positif
kepada siswa menumbuhkan rasa kebersamaan, gotong royong dan saling membantu
satu sama lain, hal ini terlihat dari beberapa siswa yang mempunyai latar
belakang kemampuan akademik yang berbeda disatukan dalam kelompok.
Di dalam pembelajaran koorperatif bukan hanya sekedar bekerjasama
dalam kelompok tetapi juga terdapat interaksi secara terbuka dan hubungan yang
bersifat efektif antara sesame anggota itu merupakan sejati dalam proses
belajar.
Model pembelajaran ini sangat tepat diberikan di
sekolah yang latar belakang siswa yang sangat beragam karena bias terjalin
komunikasi secara informal dalam proses pembelajaran dan juga memberikan
pemahaman kepada siswa yang terlambat dalam menerima materi yang disampaikan
guru. Dengan adanya interaksi sesama siswa yang lebih pandai atau sudah
memahami akan lebih mudah menerima dan memahami penjelasan yang diskusikan
disamping mereka juga terlatih untuk belajar mendengarkan dan menghargai
pendapat oranglain
Bagi siswa yang pandai model pembelajaran ini dapat
menamkan karakter peduli, tenggang rasa dan sifat berbagi ilmu, bertanggungjawab.
Selain itu dapat juga melatih kemampuan berkomunikasi secara efektfi kepada
teman sejawat. Secara tidak langsung melalui kegiatan ini siswa yang pandai
akan lebih memahami dan memperluas pengetahuannya karena merasa bangga sudah
memberikan manfaat untuk kelompok secara lebih baik.
Model pembelajaran ini sangat menunjang kebijakan
zonasi karena siswa pandai tidak akan berkumpul pada satu kelompok karena bias menyebar
ke semua kelompok ditentukan oleh guru. Selain dikelas pembagian kelompok juga
dapat dilakukan menurut tempat tinggal siswa hal ini diharapkan memberikan
dampak kepada siswa untuk mudah dalam melaksanakan kerja secara kelompok dekat
dengan tempat tinggalnya masing-masing.
Langkah-langkah menggunakan model pembelajaran
koorperatif terdapat enam
langkah dalam model pembelajaran kooperatif yaitu: (1) Menyampaikan tujuan serta memotivasi siswa. Guru menyampaikan
tujuan pembelajaran dan mengkomunikasikan kompetensi dasar yang ingin dicapai
dan memotivasi siswa. (2) Penyajian
informasi. Guru memberikan informasi kepada siswa. (3) Atur siswa menjadi kelompok belajar. Guru memberi tahu
pengelompokan siswa. (4) Membimbing kelompok belajar. Guru
memotivasi dan memfasilitasi pekerjaan siswa dalam kelompok belajar kelompok.
(5) Evaluasi. Guru mengevaluasi
hasil belajar tentang materi pembelajaran yang telah diterapkan. (6) Berikan
penghargaan. Guru menghargai hasil belajar individu dan kelompok.
Penelitian yang dilakukan oleh Slavin menunjukkan hasil
yang positif. Siswa yang mempraktikkan cooperative learning hasilnya lebih baik
dari model pembelajaran konvensional. Begitu pula Roger dan Jhonson yang
membandingkan model cooperative learning dengan model individual dan model
kompetisi. Hasilnya, siswa lebih efektif belajar ketika bekerja sama. Dengan
bekerja sama, prestasi lebih kuat untuk dicapai. Di samping itu komunikasi dan
toleransi antarsiswa jadi lebih baik karena mereka tidak membedakan ras, agama,
latar belakang keluarga, dan perbedaan lainnya.
Bagi daerah perkotaan dengan jaringan internet yang
baik, model cooperative learning sangat bisa diterapkan. Guru bisa memanfaatkan
teknologi untuk menerapkan model ini. WhatsApp, Zoom, Google Meet, Webex, dan
platform lainnya dapat digunakan untuk belajar kelompok. Bahkan, dengan sort
message pun bisa digunakan walaupun agak sedikit rumit karena siswa harus
memahami teks yang dikirim temannya dengan cermat.
Bagaimana untuk daerah yang jaringannya belum bagus?
Dengan kondisi pandemi seperti ini saya kira pertemuan terbatas tetap bisa
dilakukan di sekolah dengan tetap disiplin melaksanakan protokol kesehatan.
Siswa bisa datang ke sekolah secara terbatas dan bergiliran sehingga tetap bisa
menjaga protokol kesehatan. Guru bisa menggunakan kelas untuk melaksanakan
diskusi kelompok. Hal ini bagus sekaligus sebagai cara untuk menghilangkan
kebosanan siswa yang sudah hampir empat bulan belajar di rumah.
Koordinasi yang lebih intensif antara pihak sekolah,
dinas pendidikan, orang tua dan masyarakat harus dilakukan agar tetap
mengutamakan keselamatan siswa dalam proses belajar mengajar. Kebijakan dari
pemerintah untuk memberikan kelonggaran juga penting sekaligus sebagai bagian
partisipasi masyarakat dalam menyosialisasikan kondisi pandemi Covid-19 dengan
bijak.
Cooperative
learning bisa dilakukan di semua jenjang dan satuan pendidikan,
baik di SD, SMP, SMA, maupun perguruan tinggi/sederajat. Penerapan model ini di
setiap jenjang memerlukan strategi yang baik. Di satuan jenjang SD/sederajat
perlu perhatian lebih karena tahap awal mendidik anak untuk melatih
berkomunikasi dan bersosialisasi dengan teman sejawat, di SMP dan SMA/sederajat
sangat bagus untuk melatih anak mulai berani mengeluarkan pendapat, berani
tampil presentasi mengkomunikasikan hasil kelompoknya, di perguruan tinggi/sederajat
tentu sangat bagus untuk melatih bernegosiasi dan kemampuan lainnya yang sangat
bermanfaat ketika mereka terjun di masyarakat maupun di lingkungan kerjanya.
Cooperative
learning juga sangat ampuh untuk membentuk karakter anak kita,
baik karakter moral, karakter kinerja, karakter relasional, maupun karakter
spiritual (Jhonson). Pendapat bahwa sekolah/madrasah menjadi tempat menimba
ilmu pengetahuan dan pengembangan karakter dapat kita praktikkan dengan baik
dan nyata. Bahwa pendidikan bukan hanya mencari ilmu, tetapi juga mencetak
generasi hebat, dapat kita persiapkan dengan sebaik-baiknya serta dapat
realisasikan.
Setiap upaya maksimal dan kerja keras tentu akan
menghasilkan sesuatu yang terbaik. Kita yakinkan bahwa upaya tidak akan
dikhianati hasil. (*)
Komentar
Posting Komentar